berbagi berita bahagia

PROPOSAL SKRIPSI

20100213

PROPOSAL SKRIPSI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kejahatan bila dipandang dari sudut formil (menurut hukum) adalah suatu perbuatan yang oleh masyarakat (dalam hal ini negara) diberi pidana.1 Pada dasarnya kejahatan adalah suatu wujud realita kenyataan hidup yang tiada hentinya. Bahkan akan semakin terus meningkat dan hal tersebut salah satunya disebabkan oleh faktor ekonomi dari negara Indonesia yang terus merosot sehingga terjadi krisis ekonomi berkepanjangan. Salah satu bentuk dari kejahatan adalah pencurian. Pencurian merupakan suatu bentuk kejahatan terhadap harta benda yang secara umum diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Pencurian kayu sebagai permasalahan utama atas penurunan jumlah kayu maupun pohon-pohon di Indonesia baik di dalam kawasan hutan maupun diluar kawasan hutan yang menjadi tanah wilayah daerah kabupaten atau kota didukung oleh tingginya permintaan terhadap kayu di dalam dan luar negeri yang mana hal itu tidak sebanding dengan penyediaan industri perkayuan (legal).
Pencurian kayu dapat memberikan dampak yang luar biasa bagi peradaban dan generasi yang akan datang. Seluruh biodiversity (keanekaragaman hayati) dan kekayaan alam (termasuk kayu) dapat punah, sehingga generasi mendatang tidak bisa menyaksikan langsung kekayaan megabiodiversity (kebesaran keanekaragaman hayati) hutan tropika Indonesia.3 Hasil penelitian dari Enforcement Economic Program Conversation International Indonesia (EEPCI) pada tahun 2004 memprediksikan bahwa kerugian yang dialami oleh negara untuk tiap harinya adalah sekitar 83 miliar rupiah akibat pencurian kayu hutan dan tidak bisa dibayangkan lagi kerugian yang akan dialami untuk satu tahunnya. Bila hal tersebut tetap dibiarkan akan membawa dampak negatif bagi kehidupan antara lain:
Musnahnya berbagai flora dan fauna (a), erosi (b), konflik dikalangan masyarakat (c), devaluasi harga kayu (d), hilangnya mata pencaharian (e), banjir (f), rendahnya pendapatan negara dan daerah dari sector kehutanan (g).4
Contoh kasus yang baru-baru ini mencuat dan menghebohkan dalam bidang kehutanan adalah buron kayu seorang pengusaha PT. Inanta Timber dan PT Keang Nam berusia 49 tahun bernama Adelin Lis Tiongkang tertangkap oleh pihak kepolisian di Beijing dan sekarang berada dalam tahanan di Mapolda Sumatera Utara yang mana dalam tahanannya dijaga ekstra ketat dengan penjagaan dari Brimob dan Reserse kriminal. Penahanan buron kayu itu dijaga ekstra ketat dengan system pengaman untuk sampai ke sel harus melalui tiga pintu dan dijaga oleh 12 petugas bersenjata lengkap. Dalam hal ini polisi menjaga dengan ketat karena tidak mau kecolongan lagi sebab sudah lama tersangka menjadi buron polisi. 6 Hal tersebut menandakan bahwa tersangka selama ini menjadi buronan pihak kepolisian yang melarikan diri dan harus mendapatkan perhatian yang khusus dalam penanganannya .
Bila pencurian kayu dibiarkan terus menerus maka akan membawa dampak yang fatal bagi ekosistem hutan dan sekitarnya. Oleh karena itu penegakan hukum terhadap kejahatan harus dilaksanakan secara maksimal. Berbicara masalah penegakan hukum bagi pelaku pencurian kayu, peran serta dari pihak kepolisian sangatlah dibutuhkan untuk menegakkan hukum bagi para pelaku pencurian kayu. Karena penegakan hukum merupakan bagian dari criminal policy atau upaya penanggulangan kejahatan.7
Penyidik dalam hal ini penyidik polri sangatlah memiliki peranan penting karena sesuai dengan Pasal 7 ayat (1) KUHAP memiliki kewajiban dan kewenangan yaitu menerima laporan atau pengaduan, melakukan tindakan pertama di TKP, menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka, melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan, melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat, mengambil sidik jari dan memotret seseorang, memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi, mendatangkan ahli yang diperlukan dalm hubungannya untuk pemeriksaan perkara, mengadakan penghentian penyidikan, mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.
Melalui proses penyidikan akan diketahui siapa yang telah melakukan kejahatan dan memberi pembuktian mengenai kesalahan yang telah dilakukannya kemudian dilakukan penangkapan.8 Masalah penegakan hukum merupakan masalah yang amat rumit dan hal itu dikarenakan oleh beberapa faktor antara lain dalam hal si pelaku tindak pidana melarikan diri atau bersembunyi di tempat lain yang jauh dari lokasi kejadian tindak pidana maupun dari tempat kediaman pelaku. Oleh karena itu masih banyak pelaku pencurian kayu yang masih belum tertangkap dan masih dalam daftar pencarian orang (DPO).
Berdasarkan pemaparan latar belakang tersebut di atas perlu dilakukan kajian terhadap kendala Polri untuk melakukan penyidikan dalam rangka pelaksanaan penanggulangan represif pada tindak pidana pencurian kayu, serta kajian terhadap upaya-upaya untuk mengatasi kendala sehingga dapat dioptimalkan upaya penanggulangan represif oleh Polres Ponorogo.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang tersebut di atas, untuk dapat memperjelas pokok bahasan yang diteliti, maka penulis mencoba merumuskan beberapa permasalahan yang akan dibahas antara lain:
1. Apa kendala-kendala yang dihadapi oleh polri untuk melakukan penyidikan dalam rangka pelaksanaan upaya penanggulangan represif pada tindak pidana pencurian kayu?
2. Bagaimana upaya-upaya polri untuk mengatasi kendala tersebut sehingga dapat dioptimalkan upaya penanggulangan represif oleh pihak kepolisian resort Ponorogo?


C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah:
1. Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi oleh polri untuk melakukan penyidikan dalam rangka penanggulangan represif pada tindak pidana pencurian kayu.
2. Untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala sehingga dapat dioptimalkan upaya penanggulangan represif oleh Polres Ponorogo.

D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat atau kegunaan dilakukan penelitian adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
• Meningkatkan pengetahuan tentang proses penyidikan kasus pencurian kayu hingga ditetapkan tersangka, kendala untuk melakukan penyidikan dalam rangka penanggulangan represif tindak pidana pencurian kayu sertaupaya untuk mengatasi kendala sehingga dapat dioptimalkan upaya penanggulangan represif oleh pihak kepolisian.
2. Manfaat Praktis
a. Aparat Kepolisian
Memberikan gambaran yang bisa menjadi suatu wacana bagi aparat kepolisian setempat dalam penegakan hukum dan penanggulangan tindak kriminalitas yang terjadi di Kabupaten Ponorogo.
b. Perguruan Tinggi
Memberikan gambaran akan pentingnya pendidikan dan pengetahuan terutama di bidang hukum guna untuk dikembangkan serta diterapkan dalam kehidupan masyarakat agar seluruh lapisan masyarakat sadar akan hokum melalui pendidikanyang lebih tinggi di jenjang perguruan tinggi. .
c. Peneliti
Memberikan tambahan wawasan tentang proses penyidikan suatu kasus hingga ditetapkannya tersangka dan penangkapan terhadap tersangka terutama yang masuk dalam daftar pencarian orang

E. SISTEMATIKA PENULISAN
Dalam penulisan skripsi ini penulis akan membagi dalam 5 bab yang mana akan dijelaskan sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini memuat tinjauan teoritik mengenai ketentuan hukum pencurian kayu sesuai dengan KUHP dan Undang-Undang Kehutanan, tugas dan wewenang Polri menurut UU No.2 tahun 2002 dan UU No. 8 tahun 1981 serta upaya penanggulangan kejahatan.


BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini berisi penjelasan mengenai metode penelitian yang akan dilakukan mulai dari pendekatan, lokasi yang dipilih, populasi, sample dan responden, jenis dan sumber data, teknik pengambilan data, teknik analisa data, serta definisi operasional.
BAB IV PEMBAHASAN
Bab ini berisi realitas dari keseluruhan kasus yang ada di Polres Ponorogo terutama meengenai kasus pencurian kayu, kendala-kendala yang dihadapi oleh pihak Polri dalam menanggulangi kasus pencurian kayu serta upaya-upaya yang dilakukan guna mengatasi kendala tersebut sehingga dapat dioptimalkannya upaya penaggulangan represif oleh Polres Ponorogo.
BAB V PENUTUP
Bab ini berisikan kesimpulan dari pembahasan yang telah diteliti dan saran dari penulis atas objek penelitian.