berbagi berita bahagia

“ RIWAYAT HIDUP IBNU MISKAWAIH DAN PEMIKIRAN FILSAFATNYA ”

20121216

“ RIWAYAT HIDUP IBNU MISKAWAIH DAN PEMIKIRAN FILSAFATNYA ”

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Filasafat atau disebut juga ilmu filsafat mempunyai beberapa cabang ilmu utama. Cabang ilmu utama dari filsafat adalah ontologi, epistimologi, tentang nilai (aksiologi), dan moral (etika). Ontologi (metafisika) membahas tentang hakikat mendasar atas keberadaan sesuatu. Epistemologi membahas pengetahuan yang diperoleh manusia, misalnya mengenai asalnya (sumber) dari mana sajakah pengetahuan itu diperoleh manusia, apakah ukuran kebenaran pengetahuan yang telah diperoleh manusia itu dan bagaimanakah susunan pengetahuan yang sudah diperoleh manusia. Ilmu tentang nilai atau aksiologi adalah bagian dari filsafat yang khusus membahas mengenai hakikat nilai berkaitan dengan sesuatu. Sedangkan filsafat moral membahas nilai berkaitan dengan tingkah laku manusia dimana nilai disini mencakup baik dan buruk serta benar dan salah. Filsafat moral (etika) merupakan salah satu cabang filsafat yang saat ini menarik untuk dikaji, hal ini terkait dengan kondisi moral masyarakat modern yang kian merosot. Kemerosotan moral masyarakat dewasa ini nampak dari banyaknya perilaku menyimpang maupun berbagai tindakan kriminal yang setiap hari terjadi yang dapat disaksikan melalui media massa. Melalui kajian kritis filsafat terhadap permasalahan yang menyebakan timbulnya perilaku menyimpang maupun tindakan kriminal tersebut diharapkan dapat memberikan solusi atas permasalahan tersebut. Salah satu filsuf muslim yang menitikberatkan perhatianya pada filsafat moral (etika islam) adalah Ibnu Miskawaih. Beliau mencari kebenaran baik melaui penelitian dan pelatihan untuk mendapatkan berbagai pengalaman. Dari pengalaman beliau terinspirasi untuk mengkaji lebih dalam tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan manusia, baik menyangkut kehidupan manusia dan alam sekitarnya. Sehingga dalam berbagai literaturnya beliau juga menulis tentang kajian kedokteran, sejarah, bahasa dan lain sebagainya. Ibnu Miskawaih tumbuh menjadi seorang filsuf muslim yang termaktub dalam sejarah pemikiran Islam. Beliau memiliki tempat dalam sejarah pemikiran dunia seperti filsuf- filsuf Islam lain. Miskawaih merasa perlu untuk mengusahakan pemaduan antara apa yang telah di kenal dalam filsafat yunani dan apa di ajarkan dalam Islam. Untuk itu beliau telah mencurahkan segala tenaganya untuk memadukan antara pemikiran yunani dan pemikiran Islam. Ibnu Miskawaih hidup di tengah - tengah situasi masyarakat yang memperihatinkan. Kehidupan lingkungannya diwarnai praktik - praktik amoral seperti perzinahan, perjudian, perkosaan, penganiayaan dan lain sebagainya. Keadaan ini yang menjadi alasan Ibnu Miskawaih untuk lebih berkonstrasi mengkaji ilmu yang menyangkut etika atau moral manusia karena dengan moral yang baik akan tercipta suasana masyarakat yang damai dan bersahaja. Mengkaji pemikiran Ibnu Miskawaih dalam kaitannya dengan permasalahan moral yang dihadapi oleh masyarakat kita akan sangat relevan dalam membantu penyelesaian masalah tersebut. Setidaknya pemikiran Ibnu Miskawaih dalam bidang filsafat moral (etika) ini dapat dijadikan sebuah perenungan bagi kita dalam berkontribusi membangun peradaban manusia modern yang beretika dan bermartabat. Oleh karena itu berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas penulis termotivasi untuk menulis makalah yang berjudul: “ RIWAYAT HIDUP IBNU MISKAWAIH DAN PEMIKIRAN FILSAFATNYA ” B. RUMUSAN MASALAH 1) Bagaimanakah riwayat hidup Ibnu Miskawaih? 2) Bagaimanakah pemikiran tentang dasar – dasar etika yang diajarkan oleh Ibnu Miskawaih? BAB II PEMBAHASAN A. RIWAYAT HIDUP IBNU MISKAWAIH Ibnu Miskawaih bernama lengkap Abu Ali Al- Khazin Ahmad bin Ya’qub bin Miskawaih. Sebutan namanya yang lebih masyur adalah Miskawaih, Ibnu Miskawaih atau Ibnu Maskawaih. Nama itu diambil dari nama kakeknya yang semula beragama Majusi (Persi) kemudian masuk Islam. Gelarnya adalah Abu Ali, yang diperoleh dari nama sahabat Ali, yang bagi kaum Syi’ah dipandang sebagai yang berhak menggantikan Nabi dalam kedudukannya sebagai pemimpin umat Islam sepeninggalnya. Gelar lain yang juga sering disebutkan yaitu Al- khazin, yang berarti bendaharawan, disebabkan pada masa kekuasaan Adhud Ad- Daulah dari Bani Buwaih beliau memperoleh kepercayaan sebagai bendaharawannya. Miskawaih dilahirkan di Ray (Teheran sekarang). Mengenai tahun kelahirannya, para penulis menyebutkannya bermacam- macam. M.M. Syarif menyebutkan tahun 320 H/932 M. Margoliouth menyebutkan tahun 330 H/ 932 M. Abdul Azis Izzat menyebutkan tahun 325 H. Wafatnya pada 9 Shafar 421 H/16 Februari 1030 M. Memperhatikan tahun lahir dan wafatnya, Miskawaih hidup pada masa pemerintahan Bani Abbas berada di bawah pengaruh Bani Buwaih yang beraliran Syi’ah dan berasal dari keturunan Persi, Bani Buwaih mulai berpengaruh sejak Khalifah Al Mustakfi dari Bani Abbas mengangkat Ahmad bin Buwaih sebagai Perdana Menteri (Amir al Umara’) dengan gelar Mu’izz Ad- Daulah pada 945 M. Ayahnya, yaitu Abu Syuja’ Buwaih adalah pemimpin suku yang amat gemar berperang, dan kebanyakan pengikutnya berasal dari daerah pegunungan Dailan di Persi, di daerah pegunungan pantai selatan laut Qaswain, yang merupakan pendukung keluarga Saman. Tiga orang anak Buwaih di antaranya Ahmad bin Buwaih mengadakan ekspansi ke daerah selatan, hingga berhasil menduduki Asfahan, kemudian Syiraz dan daerah – daerah wilayahnya pada tahun 934 M. Dua tahun berikutnya berhasil menaklukan Khuziztan (dulu Ahwaz) dan Karman. Kemudian Syiraz lah yang dipilih menjadi ibukota kekuasaan mereka. Pada tahun 945 M. Ahmad bin Buwaih berhasil menaklukan Baghdad di saat Bani Abbas berada di bawah pengaruh kekuasaan Turki. Dengan demikian pengaruh Turki terhadap Bani Abbas diganti oleh Bani Buwaih yang leluasa melakukan penurunan dan pengangkatan khalifah-khalifah Bani Abbas. Puncak kemegahan kekuasaan Bani Buwaih adalah pada masa Adhud Ad-Daulah yang berkuasa dari tahun 367 hingga 372 M. Adhud Ad-Daulah adalah penguasa Islam yang mula-mula menggunakan gelar Syahinsah yang berarti maharaja, gelar yang dipergunakan raja-raja Persi kuno. Kecuali prestasinya dibidang politik, yang telah berhasil menyatukan kembali Negara-negara kecil yang memisahkan diri dari pemerintahan pusat, hingga kembali menjadi imperium besar sebagaimana dialami pada masa Harun Ar- Rasyid, Adhud Ad-Daulah amat besar juga perhatiannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan kesusasteraan. Pada masa inilah Miskawaih memperoleh kepercaan untuk menjadi bendaharawan Adhud Ad- Daulah, dan pada masa ini jugalah Miskawaih muncul sebagai seorang filsuf, tabib, ilmuwan dan pujangga. Tetapi disamping itu ada hal yang tidak menyenangkan hati Miskawaih, yaitu kemerosotan moral yang melanda masyarakat. Oleh karena itulah agaknya Miskawaih lalu tertarik untuk menitikberatkan perhatiannya dalam bidang Etika Islam. Riwayat pendidikan Miskawaih tidak diketahui dengan jelas. Miskawaih tidak menulis otobiografinya, dan para penulis riwayat hidupnya pun tidak memberikan gambaran yang jelas mengenai hal ini. Namun demikian dapat diduga bahwa Miskawaih tidak berbeda dari kebiasaan anak menuntut ilmu pada masanya. Ahmad Amin memberikan gambaran pendidikan anak pada zaman Abbasiyah bahwa pada umumnya anak-anak bermula dengan belajar membaca, menulis, mempelajari Al- Qur’an, dasar-dasar bahasa Arab (nahwu) dan Arudh (ilmu membaca dan membuat syair). Mata pelajaran dasar tersebut diberikan disurau-surau; dikalangan keluarga yang berada guru didatangkan ke rumah untukn memberikan les privat kepada anak-anaknya. Setelah ilmu-ilmu dasar tersebut diselesaikan, kemudian anak-anak diberi pelajaran ilmu fiqh, hadits, sejarah dan matematika. Kecuali itu diberikanu pula macam-macam ilmu praktis seperti music, main catur, dan furusiah (semacam ilmu kemiliteran). Diduga Miskawaih pun mengalami pendidikan semacam itu pada masa mudanya, meskipun menurut dugaan juga Miskawaih tidak mengikuti pelajaran privat, karena ekonomi keluarganya yang kurang mampu untuk mendatangkan guru, terutama untuk pelajaran-pelajaran lanjutan yang biayanya mahal. Perkembangan ilmu Miskawaih terutama sekali diperoleh dengan jalan banyak membaca buku-buku, terutama di saat-saat memperoleh kepercayaan menguasai perpustakaan Ibnu Al- Amid, menteri Rukn Ad- Daulah, juga akhirnya memperoleh kepercayaan sebagai bendaharawan Adhud Ad-Daulah Pengetahuan Miskawaih yang amat menonjol dari hasil banyak membaca buku itu ialah tentang sejarah, filsafat dan sastera. Hingga saat ini nama Miskawaih dikenal terutama sekali dalam keahliannya sebagai sejarawan dan filsuf. Sebagai filsuf, Miskawaih memperoleh sebutan Bapak Etika Islam. Miskawaih lah filsuf Islam yang mula-mula secara lengkap mengemukakan teori-teori etikanya, dan menulis buku khusus tentang etika. B. PEMIKIRAN IBNU MISKAWAIH TENTANG DASAR- DASAR ETIKA Sebagai Bapak Etika Islam, Mikawaih dikenal juga sebagai Guru Ketiga (al- Mu’allim ats- Tsalist), setelah al- Farabi yang digelari sebagai Guru Kedua (al- Mu’allim ats- Tsani), sedang yang dipandang sebagai Guru Pertama (al- Mu’allim al-Awwal) adalah Aristoteles. Miskawaih membagi isi kitabnya yang berjudul Tahdzib al- Akhlak wa Tath-hir al- A’raq (Pendidikan Budi dan Pembersihan Watak) menjadi tujuh bagian, atau sebagaimana disebutkan dalam kitab tersebut tuhuh makalah. Makalah pertama membicarakan perihal jiwa yang merupakan dasar pembahasan akhlak. Makalah kedua membicarakan perihal manusia dalam hubungannya dengan akhlak. Makalah ketiga membicarakan perihal kebajikan dan kebahagiaan yang merupakan inti pembahasan tentang akhlak. Makalah keempat membicarakan perihal keadilan. Makalah kelima membicarakan periahl cinta dan persahabatan. Makalah keenam dan ketujuh memberikan perihal pengobatan dan penyakit-penyakit jiwa. Sesuai dengan pembagian kitab Tahzib kepada makalah-makalah, kita dapat melihat bahwa tiap-tiap makalah tidak hanya berbicara tentang sesuatu topik khusus, melainkan banyak hal lain juga yang dibicarakan dalam satu makalah, dan bahkan sesuatu masalah dibicarakan secara berulang-ulang dalam makalah-makalah lain. Misalanya pada makalah pertama yang membicarakan masalah jiwa, tidak secara tuntas masalahnya diselesaikan. Perihal kekuatan jiwa dibicarakan dalam makalah kedua. Pada makalah ketiga dibicarakan juga keabadian jiwa menurut Aristoteles. Pada makalah keenam dan ketujuh dibicarakan penyakit-penyakit jiwa dan pengobatannya. Mengenai teori Etika Miskawaih dalam penulisan ini hanya akan disajikan dasar-dasarnya saja, yaitu: 1) Unsur – Unsur Etika Miskawaih. Teori Etika Miskawaih bersumber pada filsafat Yunani, peradaban Persi, ajaran Syari’at Islam dan pengalaman pribadi. Pengaruh Plato, Aristoteles dan Galenus amat jelas dalam teori Etika Miskawaih. Usaha Miskawaih adalah mempertemukan ajaran Syari’at Islam dengan teori-teori Etika dalam filsafat, setelah berusaha mempertemukan antara berbagai macam teori Etika dalam filsafat. 2) Pengertian Akhlak Kata “ akhlak ” adalah bentuk jamak dari kata “ khuluq”. Miskawaih memberikan pengertian khuluq sebagai berikut: “ Khuluq adalah peri keadaan jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perrbuatan-perbuatan tanpa dipikirkan dan diperhitungkan sebelumnya”. Dengan kata lain, khuluq adalah peri keadaan jiwa yang mendorong timbulnya perbuatan-perbuatan secara spontan. Peri keadaan jiwa itu dapat merupakan fitrahsejak lahir, dandapat pula merupakan hasil latihan-latihan membiasakan diri. Berkenaan dengan pengertian khuluq yang dikemukakan Miskawaih tersbut, dapat kita peroleh kesimpulan bahwa peri keadaan jiwa yang mendorong manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan secara spontan itu tidak selamanya merupakan pembawaan fitrah sejaklahir, tetapi dapat juga diperoleh dengan jalan latihan-latihan membiasakan diri, hingga menjadi sifat kejiwaan yang dpat melahirkan perbuatan yang baik. Dengan kata lain, manusia dapat berusaha merubah watak kejiwaan pembawaan fitrahnya yang tidak baik menjadi baik. Manusia dapat mempunyai khuluq yang bermacam-macam, baik secara cepat maupun lambat. Hal ini dapat dibuktikan pada perubahan-perubahan yang dialami anak dalam masa pertumbuhannya dari suatu keadaan ke keadaan lain sesuai lingkungan yang mengelilinginya daba macam pendidikan yang diperolehnya. Miskawaih menetapakan kemungkinan manusia mengalami perubahan- perubahan khuluq, dan dari segi inilah maka diperlukan adanya aturan- aturan Syar’at, diperlukan adanya nasehat-nasehat dan berbagai macam jaran tentang adabsopan santun. Adanya itu semua memungkinkan manusia dengan akalnya untuk memilih dan membedakan mana yang seharusnya dilakukan dan mana yang seharusnya ditinggalkan. Dari sini pula Miskawaih memandang penting arti pendidikan dan miliu bagi manusia dalam hubungannya dengan pembinaan akhlak. 3) Keutamaan (Fadhilah) Miskawaih menyebutkan adanya tiga macam kekuatan jiwa; bahimiyah atau syahwiyah (kebinatangan atau nafsu syahwat) yang mengejar kelezatan-kelezatan jasmani, sabu’iyah ( binatang buas) yang berhubungan dengan kemarahan dan keberanian dan nathiqah yang selalu berpikir tentang hakekat segala sesuatu. Tiga kekuatan itu saling mendesak, jika dapat tercapai keselarasan antara ketiganya, maka tercapailah keutamaan atau kebajikan pada manusia. Atas dasar adanya tiga macam kekuatan jiwa manusia itu, dapat disebutkan adanya tiga macam keutamaan dasar dan dari masing-masing keutamaan dasar itu timbul pula keutamaan cabang yang berpokok pada keutamaan-keutamaan dasar itu. Keselarasan antara tiga keutamaan dasar itu menimbulkan keutamaan lain, yang merupakan kesempurnaan ketiga keutamaan dasar tersebut. Dengan demikian keutamaan-keutamaan jiwa itu empat macam, yaitu hikmah (kebijaksanaan), ‘iffah (kesucian), syaja’ah (keberanian) dan ‘adalah (keadilan). Kebijaksanaan adalah keutamaan jiwa cerdas. Kesucian adalah keutamaan nafsu syahwat; keutamaan lahir jika manusia dapat menyalurkan syahwatnya sejalan dengan pertimbangan akal yang sehat, hingga ia menjadi bebas dari perbudakan syahwatnya. Keberanian adalah keutamaan jiwa ghadhbiyah (sabu’iyah); keutamaan ini timbul jika manusia dapat menundukkannya kepada jiwa nathiqah dan menggunakannya sesuai dengan tuntunan akal sehat dalam menghadapi perkara-perkara besar, hingga tidak akan dihinggapi rasa takut terhadap perkara-perkara yang menggetarkan, jika melakukannya memang baik dan jika tabah terhadapnya memang terpuji. Keadilan adalah keutamaan jiwa yang terjadi dari kumpulan tiga macam keutamaan tersebut di atas disaat terjadi keselarasan antara keutamaan-keutamaan itu dan tunduk kepada kekuatan akal sehat, hingga masing-masing kekuatan itu tidak menuntut kepuasan sejalan dengan watak pembawaannya, dan dengan demikian orang akan dapat bersikap adil terhadap dirinya sendiri, juga terhadap orang lain. Miskawaih menyebutkan adanya keutamaan lain, selain empat macam keutamaan moral tersebut, yaitu keutamaan jiwa yang lebih sesuai dengan ketinggian martabat jiwa, yaiitu berusaha memiliki pengetahuan, dan kesempurnaan jiwa yang sebenarnya adalah dengan pengetahuan dan bersatu dengan Akal Aktif. Dalam hal yang disebut terakhir ini Miskawaih memperoleh pengaruh dari Socrates yang mengatakan bahwa keutamaan adalah pengetahuan dan dari Neo-Platonisme yang mengatakan bahwa puncak keutamaan jiwa adalah bersatu dengan Akal Aktif, selanjutnya meningkat terus hingga bersatu dengan Tuhan. 4) Kebahagiaan (Sa’adah) Maskawaih membedakan antara al-khair (kebaikan) dan as-sa’adah (kebahagiaan). Kebaikan menjadi tujuan semua orang;kebaikan umum bagi seluruh manusia dalam kedudukan sebagai manusia. Sedang kebahagiaan adalah kebaikan bagi seseorang,tidak bersifat umum, tetapi relatif bergantung orang perorang. Dengan demikian kebaikan mempunyai identitas tertentu, sedang kebahagiaan berbeda-beda bergantung kepada orang-orang yang berusaha memperolehnya. Miskawaih mengatakan bahwa orang yang berakal tidak akan bergerak dan bekerja tanpa tujuan, baik tujuan dekat maupun tujuan jauh, baik tujuan yang merupakan sarana untuk memperoleh tujuan yang lebih besar ataupun tujuan pada dirinya, baik bersifat jasmaniah maupun ruhaniah, dan seterusnya. Tujuan yang bebas dari berbagai ikatan kondisional, merupakan tujuan tertinggi, yang menjadi tujuan manusia semua, yaitu yang disebut “ kebaikan mutlak”. Dalam hal ini Miskawaih mengambil alih konsep Aristoteles. Kebaikan mutlak itu jika dapat dimiliki orang akan sampai kepada kebahagiaan tertinggi, karena kebaikan mutlak itu merupakan tujuan akhir manusia yang mampu berpikir sehat. Menurut Miskawaih kebahagiaan tertinggi itu tidak lain adalah kebijaksanaan yang menghimpun dua aspek, yaitu aspek teoritis yang bersumber kepada selalu berpikir terhadap hakekat wujud dan aspek praktis yang berupa keutamaan jiwa yang mampu melahirkan perbuatan yang baik. Para nabi diutus Tuhan tidak lain hanyalah untuk menyampaikan ajaran Syari’at yang memerintahkan untuk memperoleh keutamaan dan menjauhi keburukan- keburukan. Orang yang mencapai kebahagiaan tertinggi jiwanya akan tenang, merasa selalu berdampingan dengan para Malaikat, jiwanya diterangi oleh nur ilahi dan merasakan nikmat atas kelezatan yang tertinggi pula. Baginya tidak menjadi masalah apakah dunia datang kepadanya atau meninggalkannya, apakah dunia kotor atau bersih; diapun tidak merasa susah dan sedih berpisah dengan orang yang dicintainya; akan dilakukannya segala yang menjadi kehendak Allah, akan dipilihnya hal-hal yang akan mendekatkan dirinya kepada Allah, tidak berkhianat kepada Allah, juga tidak akan berkhianat kepada diri sendiri. Dalam usahanya mencapai kebahagiaan, manusia selalu memerlukan pedoman Syari’at yang memberikan petunjuk dan meluruskan jalan mencapai kebijaksanaan, guna mengatur dirinya sendiri sampai akhir hayatnya. Syari’at lah yang memerintahkan manusia untuk melakukan hal-hal yang terpuji, karena asalnya dari Allah; Syar’at hanya memerintahkan kebajikan dan hal-hal yang akan menyampaikan manusia kepada kebahagiaan tertinggi. Miskawaih menekankan bahwa hakekat manusia adalah makhluk social. Pendiriannya tentang etika pun menekankan bahwa manusia jangan hanya memperhatikan dirinya sendiri, memperbaiki akhlaknya sendiri saja , tetapi juga harus memperhatikan orang lain. Akhlak masyarakat hendaknya diusahakan juga agar menjadi baik. Cinta kepada keutamaan hendaknya diusahakan juga akan merata di kalangan masyarakat. 5) Cinta ( Mahabbah) Miskawaih memberikan perhatiannya kepada masalah cinta sebagai salah satu unsure etika. Menurutnya, cinta ada dua macam; cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama manusia, terutama cinta seorang murid kepada gurunya. Cinta yang tertinggi nilainya adalah cinta kepada Allah, tetapi hanya dapat dicapai oleh sedikit orang. Cinta kepada sesama manusia ada kesamaan antara cinta anak kepada orang tua dan cinta murid kepada guru, tetapi cinta murid kepada guru dipandang lebih mulia dan lebih berperanan. Guru adalah bapak ruhani bagi murid-muridnya. Gurulah yang mendidik murid-muridnya untuk dapat memiliki keutamaan yang sempurna. Kemuliaan guru terhadap murd-muridnya ibarat kemuliaan ruhani terhadap jasmani manusia. 6) Pendidikan Akhlak pada Anak-anak. Miskawaih menaruh perhatian besar terhadap pendidikan akhlak pada anak-anak. Miskawaih mengatakan bahwa kejiwaan anak-anak adalah matarantai antara jiwa binatang dan jiwa manusia berakal. Pada jiwa anak-anak berakhirlah ufuk binatang dan mulailah ufuk manusia. Jiwa anak-anak berkembang dari tingkat sedehana kepada tingkat yang lebih tinggi, semula tanpa ukiran, kemudian berkembanglah padanya kekuatan perasaan nikmat dan sakit, kemudian timbul pula kekuatan yang lebih kuat, yaitu kekuatan syahwat, yang sering disebut nafsu kebinatangan. Dalam perkembangan berikutnya timbul pula kekuatan sabu’iyah atau ghadhabiyah, akhirnya dalam perkembangan berikutnya lahir pula kekuatan berpikir, atau jiwa cerdas, yang ditandai dengan timbulnya rasa malu pada anak-anak. Pada tahapan inilah anak-anak dapat merasakan mana yang baik dan mana yang buruk. Pada saat inilah pendidikan keutamaan dimulai pada anak-anak. Kehidupan utama pada anak-anak memerlukan dua syarat; syarat kejiwaan dan syarat social. Syarat pertama tersimpul dalam menumbuhkan watak cinta kepada kebajikan, yang dapat dilakukan dengan mudah pada anak-anak yang berbakat baik, dan dapat dilatih dengan membiasakan diri pada anak-anak yang tidak berbakat cenderung kepada kebajikan. Syarat kedua dapat dicapai degan cara memilihkan teman-teman yang baik, menjauhkan dari pergaulan teman-teman yang buruk. Amat berfaedah menjauhkan anak-anak dari lingkungan keluarganya sehari-hari pada saat tertentu, dan memasukkan mereka dalam lingkungan lain yang akan menumbuhkan rasa percaya pada diri sendiri lebih besar daripada jika mereka selalu berada dalam lingkungan kelurganya. Nilai-nilai keutamaan pada anak-anak yang harus menjadi perhatian adalah yang mencakup aspek jasmani dan ruhaninya. Mengenai kautamaan jasmani harus diperhatikan makanannya, kegiatan- kegiatan, dan istirahatnya. Makanan hendaknya bertujuan untuk kesehatan, bukan kenikmatan, diutamakan makanan sederhana, tetapi memenuhi syarat kesehatan. Kegiatan-kegiatan olahraga perlu diperhatikan, karena kegiatan-kegiatan semacam itu akan memanaskan garizah, memelihara kesehatan, menghilangkan kemalasan, mencegah kebodohan, menumbuhkan semangat dan membersihkan jiwa. Istirahat perlu mendapat perhatian juga, dengan membiasakan pada anak-anak tidak terlalu banyak tidur dan tidak menggunakan tempat tidur yang cenderung kepada kenikmatan. Nilai-nilai keutamaan ruhani harus banyak mendapat perhatian. Mula- mula harus ditumbuhkan rasa cinta kepada kehormatan, percaya kepada diri sendiri dan mempercerdas diri dengan banyak hafalan cerita-cerita yang baik dan puisi-puisi yang akan membantu terhadap hidup utama. Anak- anak harus dijauhkan dari bacaan-bacaan yang berkecenderungan akan merusak kejiwaan mereka. Miskawaih juga memandang diam, tidak banyak bicara pada anak-anak suatu hal yang positif, dan supaya dijauhkan dari kebiasaan-kebiasaan berkata kotor atau yang tidak pantas. Keutamaan-keutamaan dalam pergaulan sesama anak-anak yang harus ditanamkan ialah kejujuran, agar tidak mempunyai kebiasaan berdusta, tidak mempunyai permintaan yang berlebihan (qana’ah), pemurah, suka mengalahkan diri sendiri untuk mengutamakan kepentingan orang lain yang lebih mendesak dan yang terakhir adalah hendakanya ditanamkan rasa wajib taat, yang akan menumbuhkan rasa wajib menghormati orang lain, lebih- lebih terhadap kedua orang tuanya, guru- gurunya dan juru-juru didiknya. Menanamkan rasa wajib taat seperti itu akan memberikan hasil positif pada anak-anak. Dengan demikian mereka akan terbiasa berlatih menahan diri, menjauhkan diri dari kenikmatan-kenikmatan hidup yang buruk, suka mendengarkan nasehat, rajin belajar dan menghormati ajaran-ajaran Syari’at. BAB III PENUTUP Dari pembahasan diatas dapat diperoleh kesimpulan bahwa : 1) latar belakang kehidupan Miskawaih pada awal masa hidupnya berada dalam lingkungan yang diwarnai praktik - praktik amoral seperti perzinahan, perjudian, perkosaan, penganiayaan dan lain sebagainya. Kondisi demikianlah yang kemudian menjadikan Miskawaih tertarik dalam bidang etika. Berkat ketekunannya, Miskawaih kemudian menjadi seorang filsuf besar dalam Islam, yang sebagian besar ilmunya diperoleh dengan banyak membaca. Utamanya ketika Miskawaih memperoleh kesempatan untuk membaca banyak buku pada saat diberi kepercayaan menguasai perpustakaan Ibnu Al- Amid. Dengan demikian Miskawaih dapat disebut sebagai seorang autodidak yang sukses. 2) Dari banyak karangannya, terutama dalam bidang etika, nampak sangat besar pengaruh filsafat Yunani dalam pemikiran-pemikirannya. Bahkan sedemikian besar pengaruh filsafat Yunani itu, hingga tidak nampak Miskawaih menonjolkan ajaran-ajaran Syari’at Islam. Usahanya mempertemukan ajaran-ajaran Syari’at Islam dengan filsafat memberikan tempat kepada filsafat lebih besar daripada kepada Syari’at Islam. Misalnya dalam menyebutkan keutamaan-keutamaan moral, yang menonjol justru konsep Plato, Aristoteles dan Galenes, bukan nilai-nilai akhlak Islam. Meskipun demikian Miskawaih dengan mantap masih memberikan peringatan pentingnya Syari’at bagi hidup manusia, terutama ketika berbicara tentang kenabian dan keharusan anak-anak ditanamkan pendidikan agama sejak mulai menginjak kira-kira umur tujuh tahun, disaat jiwa cerdasnya mulai tumbuh. Selanjutnya pengkajian lebih dalam tentang pemikiran filsafat Miskawaih mudah- mudahan akan memberi faedah yang besar bagi kita,bangsa Indonesia, yang saat ini sedang dilanda krisis moral baik pada tataran masyarakat bawah hingga para pejabat atau penyelenggara negara.