berbagi berita bahagia

Evan Dimas seperti Mau Nangis saat Wawancara Usai Pertandingan

20141013

Evan Dimas seperti Mau Nangis saat Wawancara Usai Pertandingan

Saya memang bukan orang yang mengerti bola apalagi jadi pengamat. Walau bola identik dengan laki-laki, tapi saya suka menonton kalau yang main adalah timnas Indonesia baik U19, U23 maupun timnas senior. Saya pun mengikuti setiap pertandingan yang dilakoni timnas U19 dari mereka menang piala aff U19 tahun lalu, melakoni serentetan uji coba, sampai yang terakhir kalah 0-1 dari Australia. Saya gak akan bahas gimana permainan timnas U19 sampai bisa kalah, apakah salah taktik, permainan mudah terbaca atau semacamnya gak saya bahas karena memang saya juga gak ngerti. Kecewa pasti dirasakan seluruh masyarakat Indonesia. Tapi janganlah lantas menyalahkan begitu saja para pemain timnas U19. Saya yakin rasa kecewa yang mereka rasakan kepada diri sendiri jauh lebih besar dari siapapun. Mereka mempunyai kemampuan tapi mungkin belum sanggup memikul beban berat. Umur yang masih muda dinilai berpengaruh pada penampilan mereka yang tidak konsisten. Yah saya yang juga masih seumuran mereka aja gak kebayang gimana rasanya kalo harus mewakili negara di ajang besar, apalagi ditambah keharusan menang. Seberapapun mereka cinta sepakbola dan seberbakat apapun mereka bermain bola pasti ada rasa jenuh. Apalagi kebiasaan Indonesia yang berlebihan dalam mengeksplor dan mengekspos sesuatu yang baru mengkilap dikit belum hilang juga. Setelah pertandingan melawan Australia usai, seorang wartawan dari RCTI mewawancarai Evan Dimas. Ia menanyakan pendapat tentang harapan Indonesia yang telah pupus. Evan pun dengan wajah yang sedikit menunduk menjawab pertanyaan. “Kita sudah berusaha, Allah berkehendak lain. Inilah sepakbola, ada tertawa ada menangis. Setelah tertinggal yang saya rasakan jadi tertekan.” Evan juga terus mengulang kata beribu-ribu maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia. Mungkin ada 2 sampai 3 kali ia mengucap kata ini. Dengan raut sedih bercampur kelelahan. Jadi terlihat seperti mau menangis. Usia under 19 yang saya juga rasakan adalah masih memiliki sisi anak-anak. Mungkin masyarakat gak sadar akan hal itu. Terlalu dipaksa akan membuat mereka tertekan. Saya setuju kalau anak-anak bangsa harus mempunyai mental yang kuat. Tapi masalahnya, mental masih menjadi faktor penghambat olahraga Indonesia. Bukan hanya di sepakbola, cabang lainpun punya masalah yang sama. Saya masih yakin kalau timnas U19 adalah generasi emas. Hanya perlakuan terhadap mereka saja yang salah dan keadaan yang tidak tepat. Saya berharap timnas ini tidak lantas dibubarkan begitu saja. Masih banyak peluang di jalan lain. Indonesia masih bisa menggantungkan harapan pada mereka.