berbagi berita bahagia

Analisa yang Rasis? Bukan. Cuma Analisa yang Bodoh!

20141113

Analisa yang Rasis? Bukan. Cuma Analisa yang Bodoh!

Underdevelopment is a State of Mind: The Latin American Case Lawrence E. Harrison Madison Books, 1985 Rasanya ini kajian paling ngawur yang pernah saya baca tentang Amerika Latin. Saking ngawurnya sampai menggelikan. Tapi ada poin penting: ini bukan cuma tentang Amerika Latin saja. Pandangan serupa ini jamak ditimpakan pada negara Dunia Ketiga mana saja, dan karena itu analisa ngawurnya pun perlu kita baca dan cermati. Pada intinya tesis buku ini adalah: Amerika Latin tidak bisa maju karena budayanya dari sononya begitu: malas, suka menganggur, antikerja, tidak ada jiwa wirausaha, anti kemajuan dsb. (Ya, saya tidak becanda, memang begitulah tesis buku ini) Sound really familiar eh? Tidakkah Anda teringat kalimat "Dasar kowe orang Jawa pemalas!" yang diucapkan dengan logat Belanda? Kebiasaan menimpakan keterbelakangan pada sifat-sifat hakiki yang dianggap ada dalam diri suatu kaum/ras ini memang sudah menjadi kebiasaan kaum imperialis. Seakan untuk menutupi kenyataan bahwa keterbelakangan itu adalah hasil dari imperialisme itu sendiri, dan bukan sifat hakiki bangsa yang dijajah. Jadi bagi kaum imperialis, yang salah adalah si korban (karena pemalas, anti kemajuan dsb itu), dan bukan sang penjajah. Tapi bagaimana mungkin di abad ke-20 masih ada orang, bahkan ilmuwan politik, yang berpandangan begitu? Toh nyatanya masih ada dalam diri Lawrence E. Harrison ini. Usut punya usut, penulisan buku ini sendiri diprakarsai oleh Center for International Affairs Executive Committee di Harvard, yang pada tahun penulisan ini (1985) diketuai oleh Samuel P. Huntington yang nantinya terkenal dengan tesis "benturan antar peradaban" itu. Nah, kalau kita cermati lebih lanjut, kerangka pikir Lawrence Harrison dengan Samuel Huntington ini ternyata klop sekali. Harrison dan Huntington akhirnya memang membuat buku bersama berjudul Culture Matters (telah diindonesiakan oleh Yayasan Obor Indonesia). Di situ Huntington menulis bahwa pada 1990-an, saat ia mengamati data ekonomi Ghana dan Korea Selatan era 1960-an, ia terkejut mendapati betapa serupanya perekonomian kedua negara tersebut (artinya: sama-sama miskin). Namun 30 tahun sesudahnya, Korsel berhasil menjadi raksasa industri, sementara Ghana begitu-begitu saja (pendapatan per kapitanya 1/15 Korsel). Mengapa ini bisa terjadi? Huntington menyimpulkan: "Faktor budaya pasti berperan besar. Orang-orang Korea Selatan menghargai budaya hemat, investasi, kerja keras, dsb. Sementara orang-orang Ghana tidak." Dengan kata lain: orang-orang Ghana itu dari sononya malas, boros, tidak mau maju dsb. Amartya Sen, Peraih Hadiah Nobel Ekonomi 1998, dalam Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas (Serpong: Marjin Kiri, 2007), mengecam keras pendekatan determinisme budaya yang sangat simplistik ini. Sen menyuguhkan bukti-bukti lain (yang lebih empiris dan ilmiah) yang lalai diamati Huntington dari data ekonomi Ghana dan Korsel era 1960-an itu: 1) Struktur kelas kedua negara berbeda (ini tentunya juga dampak dari perbedaan sejarah kolonialisme dsb). 2) Komitmen politik pemerintah pada peningkatan bisnis juga berbeda. 3) Korsel punya hubungan dekat dengan Jepang dan AS yang sangat berperan dalam pembangunan ekonomi mereka di masa awal itu. 4) Yang terpenting: pada tahun 1960-an itu Korsel sudah memiliki sistem sekolah dan tingkat melek huruf yang jauh lebih tinggi dari Ghana. Budaya memang berperan penting, kata Sen, tapi budaya dalam arti langkah-langkah institusional yang diambil dalam kebijakan pembangunan, bukan budaya dalam arti "sifat-sifat bawaan yang dianggap melekat pada suatu kelompok manusia". Huntington rupanya doyan sekali melekatkan sifat-sifat bawaan pada suatu kumpulan manusia, seperti yang ada dalam tesisnya soal "benturan antar peradaban". Huntington dengan semena-mena dan seenaknya menggolongkan negara-negara ke dalam kategori "yang ini peradaban Islam yang tidak akan bisa kompatibel dengan demokrasi", "yang ini peradaban Hindu", "yang ini kubu negara demokratis", dlsb. Sen menukas, bagaimana mungkin India oleh Huntington digolongkan ke dalam peradaban Hindu, sementara jumlah Muslim di India tergolong terbesar sedunia setelah Indonesia dan cuma beda tipis dengan Pakistan. Bagi Sen, pandangan determinisme budaya ini sangat berbahaya secara politis karena kian menyulut berkobarnya politik identitas. Terbukti bahwa tesis Huntington kerap dikutip oleh kaum fundamentalis Hindu di India untuk menyatakan bahwa yang bukan Hindu tidak boleh ada di India. Dan bagaimana Huntington bisa menjelaskan Inkuisisi, Hitler, George W. Bush dengan pandangannya bahwa masyarakat Barat dari sononya demokratis? Melihat kedekatan kedua pemikir ini, tak heran bila pandangan serupa Huntington jamak kita dapati di buku ini. Mengutip Thomas McGann, Harrison berpendapat bahwa budaya Argentina dari sononya egoistik (tercermin dalam kekurangpedulian pada orang lain), memburu status ("kedudukan" lebih penting ketimbang "perbuatan"), keengganan melakukan kerja kasar atau manual labor, apatis serta tidak punya komitmen, korup dlsb (hlm. 116). Saya takjub: tidak pernahkah Harrison mendengar tentang seorang Argentina bernama Ernesto Guevara yang dengan penuh "komitmen" ikut serta dalam perjuangan bangsa "lain" melalui banyak "kerja kasar" untuk menjungkal rezim korup yang dibeking AS? Tesis Harrsion mengandung konsekuensi logis: bila kau ingin maju dan sejahtera, jangan jadi seorang Amerika Latin. Ia bersorak atas "mengungsinya ratusan ribu orang Haiti ke Amerika Serikat dan Kanada" sebagai "harapan satu-satunya" buat Haiti (hlm. 86). Ia juga menulis (bahkan mungkin berkhotbah) bahwa "it seems to me apparent that Protestantism in general and Calvinism in particular have played a role in the success of many industrialized nations as well as some high-middle-income ones." (hlm. 170). Membaca pemikiran macam ini saya jadi teringat pendapat beberapa orang yang suka mencampuraduk bahasa Indonesia dengan bahasa asing karena, menurut mereka, "bahasa Indonesia itu is very terbatas, you know, cannot express apa yang ada di pikiran ike." Orang-orang ini menganggap Indonesia tidak maju-maju karena bahasa Indonesia terbatas bagi ilmu pengetahuan dan konsep-konsep asing, sama seperti Harrison berpendapat orang Amerika Latin tidak maju-maju karena budaya mereka menghalangi mereka untuk maju. Solusi logisnya adalah: tinggalkan budayamu, jangan jadi orang Amerika Latin. Sama juga: tinggalkan bahasamu, jangan jadi orang Indonesia kalau mau maju. Saya jadi teringat Dr. Abdul Rivai, redaktur majalah pertama berbahasa Melayu Bintang Hindia, yang juga menerjemahkan karya Emile Zola ke bahasa Melayu. Suatu ketika ia berdebat dg ilmuwan-ilmuwan Belanda Fokker dan Bartelas yang berpendapat bahwa bahasa Melayu itu "miskin". Rivai berpendapat bahwa yang salah adalah kurangnya pendidikan masyarakat berbahasa Melayu di Hindia Belanda, bukan bahasanya itu sendiri. Kurangnya pendidikan itulah yang membuat bahasa Melayu jadi tampak terbatas untuk bisa menjelaskan dunia secara ilmiah. Betapa dahsyat argumen Rivai, hampir seabad mendahului pendapat Amartya Sen bahwa pendidikanlah yang menentukan segalanya, bukan sifat-sifat yang katanya bawaan itu. Dan betapa terbelakangnya orang-orang macam Lawrence Harrison, yang berabad-abad mengulangi argumen kaum imperialis yang sama. Harrison menampik kritik yang mengatakan bahwa pandangannya ini rasis, sebab "race as a physiologically differentiated concept is irrelevant to the thesis [of this book]" (hlm .166). Di titik ini saya sepakat dengannya. Pandangannya tidak rasis, hanya bodoh belaka.