berbagi berita bahagia

Lidah Bermata Sembilu

20141114

Lidah Bermata Sembilu

Lidah Bermata Sembilu Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD BUKANKAH akan lebih baik bilamana perempuan itu mengakhiri riwayat Wildan? Menggorok lehernya, menikamkan belati di punggungnya, atau membubuhkan bubuk racun tikus ke dalam gelas kopinya? Ya, memang lebih baik jika perempuan itu membunuh Wildan, daripada ia terus menerus melukai Wildan dengan lidah bermata sembilu itu.... "Sssst...! Aku tak berniat membunuhnya. Ini sekadar menguji ketajaman sembilu lidahku." "Iya, tapi setelah kau pastikan ketajamannya, kelak kau tetap akan menyudahi hidupnya bukan?" "Tidak! Aku hanya memperlakukan dirinya sebagai batu asahan untuk mempertajam mata sembilu lidahku." Masih terngiang-ngiang di telinga Wildan, janji yang pernah diikrarkan perempuan itu. Meski telah menjelma perempuan berlidah sembilu, ia bersumpah tidak akan melukai Wildan. "Lidah sembilu ini akan melukai setiap lelaki, kecuali kau." "Bukankah semua lelaki adalah musuhmu?" "Kualat aku, bila melukaimu juga." Ah, jangan-jangan perempuan itu telah menipu Wildan. Janji-janji muluk yang keluar dari mulut manisnya tak lebih dari siasat untuk memikat para lelaki. Kelak, bila seorang lelaki sudah terjerat dalam perangkapnya, ia akan melanggar ikrar. Berkhianat dan berhasrat ingin menjilat tubuh lelaki itu dengan lidah sembilunya. Sudahlah! Tusukkan saja pisau itu di perutnya agar tubuhnya terjungkal, dan mati bersimbah darah. Agar lidah sembilumu tak melukainya lagi. "Bila ia sudah jadi mayat, tubuhnya tak mengandung darah lagi. Tentu lidah sembiluku bakal tumpul karena tak diasah." ** ENTAH dosa apa yang telah diperbuat Rinjali, hingga perempuan muda itu jatuh ke pelukan Triyono. Begitukah takdirnya? Tidak! Rinjali sulit percaya takdir. Jika ia memercayai takdirnya berakhir di tangan lelaki iblis itu, betapa tak mujurnya takdir Rinjali? Takdir paling malang, barangkali. Konon, sebelum mempersunting perempuan itu, Triyono sudah insyaf dan bertekad hendak berubah menjadi lelaki baik-baik. Suami yang bersetia. Ia telah bertobat, dan ingin menghapus buruk rupa wajah masa silamnya. Tapi, ibarat seekor anjing yang sudah terlanjur ketagihan pada enaknya tahi, maka selamanya anjing itu makan tahi. Tersebab hidup yang kian bertambah susah dan nasib yang tak kunjung berubah, Triyono pun nekat, kembali ke habitatnya. Ia mulai lagi menjajakan tubuh kekarnya pada perempuan-perempuan pirang bermata cokelat. Kali ini, makin menggila. Tak segan-segan Triyono mengajak tamu-tamunya singgah ke rumahnya. Ya, rumah tempat Rinjali tinggal. Tak jarang pula, perempuan-perempuan itu diinapkannya di kamar yang bersebelahan dengan kamar istrinya. Suatu kali, Triyono pulang bersama seorang lelaki bule. Mancung hidungnya, jangkung postur badannya. Tak biasa ia bergaul dengan laki-laki. Lumrahnya, di mana ada Triyono, di sampingnya pasti ada perempuan pirang. Seperti sudah direncanakan, sesampai di rumah, Triyono langsung saja mempersilakan si bule itu masuk kamar. Sementara, Rinjali ada di dalam, sedang rebah melepas lelah. Pintu kamar langsung dikunci (tepatnya dikunci). Triyono berlagak seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dari luar, terdengar pekik Rinjali. Meronta, menghentak-hentak, menjerit sejadi-jadinya. Tapi, jeritan perempuan itu tak mungkin mengubah keadaan. Maka, terjuallah Rinjali pada malam jahanam itu. ** MATA boleh rabun, telinga boleh pikun, tapi Mbah Jarot --dukun teluh yang tak tertandingi kesaktiannya-- tak pernah lupa berapa banyak jarum susuk yang telah ditancapkannya ke tubuh perempuan-perempuan yang memohon pertolongannya. Ada yang ditanam di jidat. Ada pula yang dibenamkan di dagu, alis, pipi kiri, pipi kanan, pangkal kuping, leher, kuduk bahkan juga lidah. "Kau hanya perlu sedikit berbenah. Agaknya kau belum memerlukan susuk," begitu nasihat Mbah Jarot pada seorang perempuan yang menggebu-gebu hendak memiliki susuk. "Jangan salah paham, orang tua! Saya tidak bermaksud mempercantik diri, tapi, hendak mempertajam lidah," balasnya, tegas. "Kau mau lidah yang setajam apa, Nak?" "Setajam sembilu." "Sembilu?" "Ya, untuk membalas luka dengan luka. Darah dengan darah. Dengan lidah sembilu itu, akan saya lukai semua lelaki. Jadi, segeralah tancapkan jarum susuk itu di lidahku ini!" mohonnya, seraya menjulurkan lidah pada Mbah Jarot. Mulut Mbah Jarot pun mulai komat-kamit, membaca jampi-jampi saat membenamkan jarum susuk, persis di pangkal lidah perempuan itu. Sementara di benak si perempuan, mulai terbayang betapa pedihnya luka akibat sayatan mata sembilu lidahnya itu. Kelak, di kemudian hari. "Semoga lidah sembilumu tak menggoreskan luka di tubuh lelaki tak berdosa." "Jangan terlalu banyak petuah! Saya bebas melukai lelaki mana pun. Bukankah kau sudah saya bayar mahal, tua bangka?" bentak perempuan itu, makin beringas. ** SENJA nyaris redup. Seorang lelaki mengantar Rinjali pulang ke rumah. Tampak raut muka sayu di wajah perempuan itu. Hanya sedikit tersisa aura kecantikan masa belia. Suram, kusam. Sesuram harapan ibu-bapaknya untuk dapat bertemu kembali dengannya. "Saya Wildan," lelaki muda itu memperkenalkan diri. Kedatangannya tak hanya sekadar memulangkan Rinjali, setelah sekian tahun tak menginjakkan kaki di rumah ini, tapi sekaligus bermohon agar Pak Handoko (ayah Rinjali) berkenan mengizinkannya menikahi Rinjali. "Anda tidak salah pilih?" tanya Pak Handoko, "Rinjali, anak saya, sudah janda. Anda masih terlalu muda untuk menikah, bukan?" "Rinjali tidak pernah janda di mata saya. Saya ingin menikahinya. Restui kami, Pak!" balas Wildan. Jika Izrail adalah malaikat pencabut nyawa, maka (di mata Pak Handoko), Wildan adalah malaikat "penyambung" nyawa. Nyawa anak bungsunya yang nyaris tak tertolong. Sebelum bertemu Wildan, peruntungan Rinjali seperti kapal kertas. Terombang-ambing di tengah samudera luas. Tak perlu menunggu kecamuk badai atau gelombang pasang, riak-riak kecil saja sudah mampu membenamkan kapal kertas itu ke dasar laut untuk tak muncul lagi ke permukaan. Tapi, kini Wildan mengembalikan Rinjali yang hilang selama berbilang tahun. Sebelum kedatangannya, Pak Handoko nyaris tak punya harapan lagi. Ia mengira Rinjali sudah "tenggelam", entah di laut mana. Gugusan sinar mulai menyemburat dari sorot mata Rinjali. Rona mukanya kembali memancarkan aura memesona. Ia seolah beroleh nyawa yang baru. Hidup yang kedua kali setelah kematian yang pertama. Cantik tak terlukiskan paras Rinjali setelah dipersunting Wildan. Hidup mereka mengalir begitu saja, seiring bergulirnya waktu. Seiring dengan hanyutnya kenangan Rinjali saat bersama Triyono yang telah membuangnya seperti membuang tahi ke dalam selokan. Seperti membuang ingus ke dalam lubang kloset. "Saatnya kau mencabut susuk dari lidahmu, Rinjali!" begitu bisikan yang kerap mengusik ketenangan Rinjali. "Jangan ganggu aku! Soal susuk itu, bukan urusanmu," batinnya, melawan bisikan-bisikan yang datang entah datang dari mana. "Cabutlah! Bila tidak, lidahmu tetap akan bermata sembilu." "Lalu?" "Sembilu itu bisa melukai Wildan, suamimu." "Enyah kau, Bangsat...!" ** BELUM genap setahun usia pernikahan mereka, tiba-tiba saja sikap Rinjali berubah. Ia tidak seperti perempuan yang dulu dikenal Wildan. Nyaris tak bisa santun dan berlemah lembut seperti dulu. Perkara-perkara remeh saja sudah membuncahkan cela dan cerca dari mulutnya. Tak pernah lagi Wildan bersitatap dengan raut muka jernihnya. Lelaki itu sudah amat berhati-hati. Menjaga omongan. Menjaga sikap, dan berusaha untuk tidak pernah salah dalam hal apa pun di dekat Rinjali, istrinya. Namun, umpat, cacian, sumpah serapah tetap terpacak dari bibir perempuan itu. Tak henti-henti lidah Rinjali mengiris-iris hati Wildan. Pedih terasa. Sepedih luka tersayat sembilu. Belum kering luka lama, lidah sembilu itu sudah menggoreskan luka baru. Belum hilang pedih luka lama, sudah dibuatnya luka baru, jauh lebih pedih. Suatu malam, saat Wildan menyeduh kopi sembari membolak-balik halaman buku yang sedang dibacanya, terjadi sedikit perdebatan. Secepat kilat, kopi panas itu melayang sekaligus dengan gelasnya, tepat di kening Wildan. Lelaki itu masih mengerang kepanasan, Rinjali melemparkan asbak rokok dari bahan keramik dan bersarang persis di pangkal telinga Wildan. "Kere! Kawin cuma modal dengkul. Pergi kau, brengsek!" "Sejak jadi binimu, hidupku bukannya makmur, tapi makin melarat." Lagi-lagi lidah sembilu itu menggoreskan luka. Wildan diam, mengurut dada sambil menghela napas dalam-dalam. Tak sepatah kata pun ia menyela, apalagi membalas makian Rinjali. Hingga sampailah pada malam jahanam, ketika Wildan menyaksikan (dengan mata kepala sendiri) Rinjali sedang bergumul dengan lelaki muda, mendesah di ranjang hotel berbintang. Di kantong celana Wildan terselip sebilah belati bermata kembar. Digenggamnya belati itu dengan kepalan tangan yang mulai gemetar. Menggigil dan berkeringat dingin. "Apa yang kau tunggu? Ini tak bisa diampuni. Ayo, habisi dia!" batin Wildan, ragu-ragu. "Sembelih saja lelaki begundal itu!" Ah, lagi-lagi Wildan diam, mengurut dada sembari menghela napas dalam-dalam. Lama ia bersitatap dengan raut muka pucat Rinjali. Perempuan itu masih telentang dengan tubuh telanjang di bawah tindihan lelaki setan itu. "Perempuan sundal! Belum puas juga kau melukaiku?" "Belum tajam jugakah mata sembilu lidahmu?" "Cuih.... Diam kau!" sela Rinjali. "Mestinya kau berterima kasih pada lelaki ini." "Berterima kasih?" "Ya, dia akan memberimu keturunan. Lelaki impoten sepertimu mesti ditolong." "Pulanglah Wildan! Doakan agar aku segera mengidam, dan bunting!" Entah kali yang ke berapa, Wildan meringis keperihan, menanggung pedih luka yang digoreskan perempuan berlidah sembilu itu. Tapi, ia tetap diam, mengurut dada sambil menghela napas dalam-dalam. ** BUKANKAH akan lebih baik bilamana Rinjali mengakhiri riwayat Wildan? Menggorok lehernya, menikamkan belati di punggungnya atau membubuhkan bubuk racun tikus ke dalam gelas kopinya. Ya, memang lebih baik jika perempuan itu membunuh Wildan, daripada ia terus menerus melukai suaminya dengan lidah bermata sembilu itu....*** read more...