berbagi berita bahagia

NASIONALISME DALAM CERPEN “ MARDIJKER ” KARYA DAMHURI MUHAMMAD: KAJIAN POSKOLONIALISMEI.

20141114

NASIONALISME DALAM CERPEN “ MARDIJKER ” KARYA DAMHURI MUHAMMAD: KAJIAN POSKOLONIALISMEI.

LATAR BELAKANG Wacana nasionalisme Indonesia tidak dapat dilepaskan dari panjangnya sejarah imperial dan kolonial Belanda di Indonesia. Penjajahan di Indonesia yang dilakukan oleh Belanda tidak hanya berhubungan dengan eksploitasi sumber daya manusia dan alam, namun juga konstruksi budaya dan identitas. Manusia Indonesia oleh orang-orang Belanda disebut sebagai pribumi ( inlander ) dengan segala citra inerioritasnya. Penciptaan stereotipe ini adalah bagian dari proses kategorisasi !"ang #ain$ ( the other ) yang dioposisibinerkan dengan diri ( the self ) para penjajah yang berupaya membangun citra superior mereka. %onstruksi terhadap identitas tersebut mempengaruhi ruang gerak bangsa Indonesia. Bangsa sebagai hasil overwrite dari ruang kolonial merupakan hasil dari penindasan terhadap ruang-ruang lokal yang lebih kecil. Wacana kebangsaan adalah legitimasi penindasan dalam ruang internal, yang membutuhkan ruang alternati&e dari pembebasan atas penindasan. 'al ini dapat muncul dalam ide-ide tentang nasionalitas atau kebangsaan sebagai bentuk dari resistensi negara terjajah terhadap kolonial.Menurut pstone, inti dari post-space adalah sebuah gerakan menuju alternati-alternati untuk melihat ruang poskolonial dalam term nasional. Pengarang no&el kolonial kontemporer meletakkan nation dalam konteks sejarah antikolonial yang melatarbelakangi munculnya kesadaran nasional dalam rangka pembebasan atau kemerdekaan bangsa. %onsep pembebasan dari kekuatan kolonial paling dapat diamati dalam skala nasional. leh karena itu pembahasan mengenai apa itu nation dan nationalism menjadi penting. *alam sejarah kesusastraan Indonesia kita mengenal +ngkatan Pujangga Baru yang memiliki karakter yang kental dengan nasionalisme. %ita dapat melihat karya-karya Muh. amin, "yahrir, "anusi Pane, dan "utan akdir +lisjahbana yang menaarkan pembebasan diri sebagai bangsa atau manusia yang mandiri. /amun, meskipun karya-karya tersebut diarnai nasionalisme, bukan berarti kekuatan kolonial sama sekali tidak bisa ditemukan. erkadang, justru melalui nasionalisme tersebut kekuatan kolonial terbukti masih melekat dalam alam baah sadar pemikiran bangsa Indonesia. 'al ini tercermin dari karya-karya sastraan Indonesia, tidak hanya karya-karya pasca penjajahan Belanda, namun juga karya-karya yang dibuat jauh setelah Indonesia merdeka. 1 "alah satu karya yang memiliki arna nasionalisme adalah cerpen 0Mardijker1 karya *amhuri Muhammad. 2erpen ini dimuat di harian "uara Merdeka edisi Minggu, 34 5anuari 6778. 2erpen ini menceritakan /atan "oedira, seorang gembel yang setiap hari duduk di pelataran depan #atan9a 2a:, tempat anak muda jaman sekarang nongkrong dan bergaul menghabiskan aktu. ;embel itu setiap pukul setengah lima sore meneriaki tamu-tamu ca: baha mereka adalah !mardijker$ seperti dirinya. "etelah ditelusuri oleh imor, pemuda pelanggan #atan9a 2a:, ternyata gembel itu bernama /atan "oedira. /ama !"oedira$ adalah nama marga dari para budak yang dibebaskan oleh 2ornelis 2hastelein, tuan tanah yang berkuasa di daerah itu ratusan tahun yang lalu. 2hastelein memiliki sebuah landhuis atau &illa yang mungkin saja menjadi bangunan #atan9a 2a: sekarang. *alam surat asiatnya, 2hastelein menyebutkan marga 1"oedira1 sebagai satu-satunya pearis &illa itu. /amun, sebelum imor mengungkapkan temuannya dalam rangka mengusir si gembel, ternyata /atan "oedira gembel itu tidak pernah lagi muncul. +pa sebenarnya arti kata !mardijker$< +pa tujuan /atan "oedira meneriaki tamu ca: dengan sebutan itu< *apat dikatakan baha *amhuri telah menuliskan cerpen yang mengandung perlaanan terhadap kolonialisme yang tercermin dari perilaku tokoh /atan "oedira. ang menjadi pertanyaan adalah, benarkah ini merupakan bentuk nasionalisme yang merupakan kecintaan terhadap bangsa sendiri atau justru menunjukkan kekuatan kolonial yang masih membayangi pemikiran bangsa Indonesia yang telah merdeka. II. LANDASAN TEORI "eperti yang telah disampaikan diatas, melihat nasionalisme di Indonesia tidak bisa dilakukan dengan melepaskannya dari sejarah kolonialisme Belanda. 'ubungan antara keduanya, menurut =aruk (388>? 3) dapat dilihat dalam dua tataran, yaitu tataran uni&ersalitas dan tataran kontekstualitas. *alam tataran uni&ersal, nasionalisme Indonesia pertama-tama adalah sebuah gerakan emansipasi, keinginan mendapatkan atau membangun (kembali) sebuah dunia yang luas, bebas, yang didalamnya dan dengannya manusia dapat menghidupkan dan mengembangkan serta merealisasikan dirinya sebagai subjek yang mandiri, bebas, dalam sebuah bentuk yang dapat diraba. /asionalisme ini dipertentangkan dengan imperialism atau kolonialisme, gerakan yang didorong oelh kehendak dari satu pusat metropolitan untuk mendominasi, menguasai, menghuni, dan mengatur sebuah ilayah yang jauh ("aid, 388@? 4) yang didasarkan pada kebutuhan akan petualangan (/ieuenhuys, 3846? 2 >@) dan realisasi diri sebagai manusia terpilih yang berhak atas dunia baru yang dijanjikan uhan dan sekaligus berhak utnuk menjadi juru selamat dunia (%ohn, 384A? 3A /ieuenhuys, 3846? 4,3@ +brams, 38C3). *alam tataran kontekstual nasionalisme Indonesia merupakan kehendak utnuk membangun sebuah dunia yang didalamnya manusia Indonesia, imur, dapat merealisasikan dirinya secara bebas, lepas dari tekanan dominasi Belanda, Barat. Ini membatasi gagasan pembebasan hanya pada hubungan antarbangsa yang dapat membuatnya bertentangan dengan gagasan pembebasan pada tataran yang lebih rendah, seperti tataran pribadi, kelompok, kelas, dan sebagainya. *alam meujudkan kehendak diatas, orang Indonesia tertarik ke dua arah yang berlaanan? nasonalisme sentripetal, ke masa lalu (imur), menganggap dunia itu sudah ada sebelumnya dan dapat ditemukan kembali, dan nasionalisme sentriugal, yang bergerak ke masa depan, menganggap dunia itu sebagai bangunan yang akan atau sedang dalam proses pembentukan (Barat, sintesis antara imur dan Barat). /asionalisme sentriugal cenderung lebih dominan. /amun, bukan berarti baha kecenderungan nasionalisme sentripetal lenyap sama sekali. %ecenderungan kembali ke masa lalu merupakan arus baah yang terus hidup, mereproduksi dirinya dan membayangi nasionalisme sentriugal tidak hanya melalui teori, praktik dan sikap tokoh pergerakan nasional, melainkan juga melalui teori, praktik, dan sikap kelompok tradisional dan eudal yang masih terus hidup dan berpengaruh luas di kalangan masyarakat ( %artodirjo dalam =aruk, 388>? @-A). %ebertahanan hidup nasionalisme sentripetal disekitar nasionalisme sentriugal juga dimungkinkan oleh siat idealistis dari dunia yang ingin mereka bangun atau dapatkan kembali serta oleh penolakan mereka kepada masa kini, kenyataan sejarah yang mereka alami berupa struktur sosio-kultural kolonial Belanda (=aruk, 388>? A). /asionalisme dalam karya-karya sastra dapat diamati dari karya sastraan Pujangga Baru melalui majalah Pujangga Baru yang pertama terbit tahun 38@@. rientasi karya-karya Pujangga Baru tergolong ke dalam nasionalisme yang sentriugal yang menganggap baha dunia ideal yang dibutuhkan orang Indonesia merupakan sebuah dunia baru yang akan atau sedang dalam proses pembentukan. Para sastraan Pujangga Baru menengok ke !sejarah 9aman baru$-nya sendiri dan ke berbagai pusat kesenian dunia meskipun mengalami hambatan. /amun, arus baah yang sentripetal juga turut mengisi majalah Pujangga Baru dengan berbagai tulisan yang cenderung !memuja kebesaran masa lalu$. 3