berbagi berita bahagia

Telkom bantah ada desakan jual Mitratel ke TBIG

20141104

Telkom bantah ada desakan jual Mitratel ke TBIG

PaidVerts Anggota Komisi I DPR RI Roy Suryo meminta supaya Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) membuat aturan yang jelas supaya tidak dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Roy juga mengingatkan bahwa kasus Denny AK sebagai tersangka pemeras beberapa operator telekomunikasi harus menjadi sebuah pelajaran bagi BRTI. “BRTI dalam membuat aturan itu harus clearly, benar-benar jelas dan tegas, sehingga tidak ada loophole yang bisa dimanfaatkan pihak-pihak yang mengaku asosiasi, LSM, atau apalah itu, tetapi ujung-ujungnya adalah mencari keuntungan pribadi,” kata Roy Suryo dalam siaran persnya, Selasa(8/5/2012). Sebelumnya, Roy Suryo pun mengutarakan dalam Rapat Dengar Pendapat di DPR, bahwa dirinya mengetahui seluk-beluk Denny AK sebagai Ketua LSM Konsumen Telekomunikasi Indonesia (KTI). Roy mengungkapkan saat itu, pihak berwajib harus berhati-hati menerima aduan Denny AK, supaya tidak dimanfaatkan. Kemudian belakangan terungkap bahwa Denny tertangkap tangan Polda Metro Jaya lantaran memeras beberapa operator telekomunikasi. Roy berharap kasus tersebut diungkap secara tuntas dan transparan sebagai bahan pembelajaran. “Jangan sampai kemudian kasus ini malah membikin mafia-mafia dij aringan telekomunikasi, kita harapkan juga asosiasi-asosiasi seperti Mastel membantu memberikan pencerahan dan wawasan institusai hukum dan semua pihak. Dan pemerintah makin baik dalam membuat aturan, jangan sampai ada lubangnya,” jelas Roy Suryo. Polda Metro Jaya sampai saat ini terus memproses berkas perkara Denny AK. Kasus tersebut terus berjalan karena kepolisian pun menerima pengaduan dari operator telekomunikasi lain, XL dan Telkomsel yang merasa dirugikan Denny AK. Kasus sebelumnya yang juga sempat mencuat adalah ketika KTI menyeret dua penyedia layanan Broadband Wireless Access (BWA) atau yang lebih dikenal dengan WiMax yakni PT First Media dan PT Berca Global Access pada April 2011 lalu. Keduanya dilaporkan KTI ke pihak berwajib atas tuduhan telah melakukan kebohongan publik. Namun seiring berjalannya waktu, kasus tersebut menguap begitu saja tanpa akhir yang jelas. "Itu semua bisa saja terjadi (operator lain juga pernah diperas). Tapi nanti lah kita kembangkan," ungkap Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto beberapa waktu lalu.