berbagi berita bahagia

Reaksi Pro-Kontra atas Pembatalan Kurikulum 2013

20141209

Reaksi Pro-Kontra atas Pembatalan Kurikulum 2013

 Jakarta : Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan telah membatalkan pelalsanaan kurikulum 2013 di 211.779 sekolah. Tapi, kurikulum baru itu tetap diterapkan di 6.221 sekolah yang sudah menerapkan kurikulum ini selama tiga semester.

Muncul pro dan kontra terhadap keputusan itu, termasuk dari pihak sekolah. Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri 11 Padang Yenni Putri mengaku suka dengan Kurikulum 2013. Sebab, sistem pembelajaran yang bagus.

"Penilaian secara otentik dan pembelajaran juga saintifik," ujarnya saat dihubungi, Sabtu (6/12/2014).

Menurut Yenni, Kurikulum 2013 menuntut guru dan siswa lebih kreatif. Namun, harus didukung dengan kompetensi guru, pelatihan dan sarana yang lengkap.

Ia mengatakan, sebagian guru mengaku kecewa dengan kebijakan pencabutan Kurikulum 2013. Sebab, sistem pendidikan balik lagi ke belakang.

"Dana yang dihabiskan juga cukup banyak untuk ini," ujarnya.

Yenni mengaku, sekolah bingung dengan penarikan ini. Apalagi, hingga saat ini, surat edarannya belum tiba di sekolah-sekolah. "Kita baru mengetahui melalui running text televisi," ujarnya.

Saat ini, siswa sedang mempersiapan ujian semester. Setelah itu mereka akan menerima rapor.

"Apakah yang dipakai itu rapor kurikulum 2013 atau kurikulum 2006. Itu juga membingungkan," ujar Yenni.

Sementara Kepala Sekolah Menengah Atas Taman Siswa, Ki Jal Atri Tanjung, justru gembira dengan ditariknya Kurikulum 2013. Sebab, penetapan kurikulum ini terkesan mendadak.

"Kembali ke Kurikulum 2006 ini satu hal yang positif. Ketimbang di tengah jalan baru dirubah," ujarnya.

Menurut dia, konsep Kurikulum ini sebenarnya cukup baik. Tapi pelaksaannya mengalami kesulitan. Misalnya, sekolah diwajibkan menggunakan perakatan IT, dengan menyediakan LCD dan laptop di setiap kelas.

"Selain itu, siswa kita belum terbuda mencari sendiri. Masih dari guru," ujarnya.

Sebaiknya, kurikulum 2006 yang sudah jalan hampir delapan tahun itu harus dievaluasi. "Kekuarangan itu yang harus diperbaiki. Jika ingin menerapkan Kurikulum 2013 muingkin bisa pada tahun 2015 atau 2016. Butuh penyesuaian," ujar Atri.

Namun, ia menambahkan, selama satu semester penerapan kurikulum ini sudah banyak pengeluaran biaya. Diantaranya untuk pembelian buku.

"Kita juga telah melakukan pelatihan bagi guru. Itu sudah selesai semuanya. Tapi kebijakan ini harus kita hormati," ujarnya. (T.co/HF