berbagi berita bahagia

Usai Emosi Kritik Kurikulum, Yusuf Mansyur Minta Maaf ke Anies Baswedan

20141210

Usai Emosi Kritik Kurikulum, Yusuf Mansyur Minta Maaf ke Anies Baswedan


Usai Emosi Kritik Kurikulum, Yusuf Mansyur Minta Maaf ke Anies Baswedan


 JAKARTA - Ustaz Yusuf Mansyur meminta maaf kepada Menteri Pendidikan Anies Baswedan. Permintaan maaf itu menyusul serangkaian tweet Yusuf Mansur di akun twitternya yang emosional menanggapi pemberitaan sebuah portal nasional.

Dalam twitnya beberapa waktu lalu, @yusuf_mansur menulis: "smg ke depan, sy bs tabayyun. ini msh nunggu dialog saya dg pak anies baswedan. sblm adanya balasan, saya ttp meminta maaf dulu."

Menurut Yusuf Mansyur, Anies Baswedan telah menelepon dirinya langsung, terkait serangkaian twit Yusuf Mansur dengan hastag #sekolah. (Baca: Emosional Kurikulum 2013 Dihapus, Ustaz Yusuf Mansyur ...)

Twit Yusuf Mansur berikut ini telah diretweet sampai 400 lebih oleh netizen: "Alhamdulillah, barusan pak anies baswedan dah ngebel sy td. &bcr ckp pnjg lbr ttg klarifikasinya. insyaa Allah saya twit malam ini." ujarnya di Twitter. (Nani)

Hanya Di Era Jokowi, Berdoa Cara Islam di Sekolah Akan Dihapus

Setelah mengeluarkan kebijakan aneh dengan menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) ketika harga minyak dunia turun, kini pemerintah Jokowi JK kembali akan mengeluarkan kebijakan aneh terkait tata cara berdoa dalam sekolah.

Pemerintah Jokowi JK akan mengevaluasi dan menghapus tata cara lama dengan membuat aturan baru terkait tata cara berdoa dalam lingkungan sekolah negeri agar tidak identik dengan dominasi agama tertentu. Termasuk berdoa yang selama ini identik dengan cara Islam.

“Saat ini kita sedang menyusun, tatib soal aktivitas ini, bagaimana memulai dan menutup sekolah, termasuk soal doa yang memang menimbulkan masalah. Ini sedang di-review dengan biro hukum,” ujar Anies dalam jumpa pers di kantornya, Gedung Kemendikbud, Jalan Jend Sudirman, Jakarta, Senin (1/12/2014).

Anies beralasan bahwa Upaya pengaturan tata cara berdoa setelah mendapat keluhan dari sejumlah orangtua murid terhadap tata cara dominan agama tertentu dalam proses belajar mengajar. Hal itu membuat siswa penganut agama lain menjadi tidak nyaman.

Dominasi agama tertentu yang dimaksudkan Anies sangat jelas sekali mengarah ke Islam, mengingat jumlah penganut Islam adalah mayoritas di Indonesia.

"Sekolah di Indonesia mempromosikan anak-anak taat menjalankan agama, tapi bukan melaksanakan praktik satu agama saja. Sekolah negeri menjadi sekolah yang mempromosikan sikap berketuhanan yang Maha Esa, bukan satu agama" tutur Anies.

Lebih lanjut Anies juga menjelaskan bahwa sekolah negeri bukanlah tempat untuk mempromosikan keyakinan agama tertentu. Sesuai dengan asas pemerintah menjamin kemerdekaan beragama di Indonesia, sekolah seharusnya memberikan kesetaraan bagi penganut agama lainnya.[islamedia/mh]