berbagi berita bahagia

{Book Review} Koala Kumal

20150423

{Book Review} Koala Kumal


koala
Judul : Koala Kumal
Penulis : Raditya Dika
Penerbit : Gagas Media

Published : 2015
Jumlah halaman: 260 halaman
Rating : 3/5
Sinopsis : 
Memasuki tahun kesepuluh sebagai penulis, Raditya Dika melahirkan karya terbarunya Koala Kumal. Masih mengusung genre yang sama—kisah-kisah komedi yang didasarkan pada pengalaman si penulis, kali ini lewat Koala Kumal, Raditya Dika mengajak pembacanya berbicara tentang hubungan yang ‘patah’. Mulai dari renggangnya hubungan pertemanan, perasaan yang berubah kepada orang yang sama, hubungan orangtua dan anak, hingga patah hati terhebat yang mengubah cara pandang terhadap cinta.

Sudah lama rasanya nggak baca buku penulis yang terkenal kocak satu ini. Gue jadi teringat ketika pertama kali baca buku dia yang berjudul kambing jantan, pinjem sama temen SMP gue (dan gue ngerasa gue cukup tua sekarang ini. Kampret). Imbasnya, setelah gue baca buku Radit yang satu itu gue dimarahin nyokap karena ketawa nggak berenti-berenti hampir lima menit dan dikeplak sama bukunya Radit juga. Dan akhirnya, setelah tujuh tahun dari debut pertamanya (dikira boyband kali) Radit pun nerbitin buku terbarunya, Koala Kumal.
Hal pertama yang selalu ada di pikiran gue ketika Radit ngeluarin buku adalah apakah Radit merupakan pengikut WWF garis keras? Hampir semua buku yang dia tulis berhubungan dengan binatang. Saya sendiri pun bingung. Okelah. Back to review.  
Buku ini, sama seperti buku sebelumnya yang bertema komedi. Masih lucu. Masih. Khas Radit banget kok. Hanya apa yah, gue ngerasa feel Radit mungkin “kurang berasa” dibanding buku-buku sebelumnya yang menurut gue lebih lepas. Mungkin karena request dari penerbit juga. Pastinya, Radit juga memikirkan penggemar-penggemarnya yang kebanyakan masih berada di bangku sekolah. Hal inilah yang mungkin mengakibatkan tulisan Radit “kurang lepas”.
Terlepas dari kurang lepasnya tulisan Radit, gue ngerasa kok. Kalo komedi ya nggak melulu harus spontan bikin orang ketawa. Bisa juga kok bikin ketawanya pas udah satu menit kemudian atau satu jam kemudian (kalo yang ini agak terlalu lama sepertinya). Yang jelas, buku ini cukup membuat gue tertawa dan dikira orang gila sepanjang perjalanan Jogja-Mojokerto. Dan yang paling penting adalah, dalam novel ini kita tidak hanya belajar tentang kegiatan absurd Radit sehari-hari. Akan tetapi, kita juga belajar tentang hidup. Terutama, patah hati.

“Dik, kamu tahu gak istilah Mama untuk orang yang sudah pernah merasakan patah hati?”
“Apa , Ma?” 
Nyokap menatap mata gue, lalu bilang, “Dewasa.” — p. 247

Buku ini dibaca dan direview dalam rangka “Non Fiction Reading Challenge 2015″