berbagi berita bahagia

Berhenti Merokok Itu Mudah, Tapi Bisa Berakibat Fatal 3 Agustus 2014 18:00

20160111

Berhenti Merokok Itu Mudah, Tapi Bisa Berakibat Fatal 3 Agustus 2014 18:00

Prosentase populasi yang merokok di Indonesia menunjukkan trend meningkat. Tahun 1995, jumlah perokok di Indonesia mencapai 27 persen dari jumlah penduduk. Sedangkan tahun 2011, jumlah perokok meningkat menjadi 36 persen. Untuk penduduk pria, jumlah perokok mencapai 50 persen pada 1995. Tahun 2011 meningkat menjadi 67 persen. Ini berarti setiap dua dari tiga penduduk pria di Indonesia merokok. Informasi ini disampaikan oleh peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia, Abdillah Ahsan, seperti yang dimuat di Republika Online (11/3, 2014).
Untuk penduduk wanita, jumlah perokok mencapai satu persen pada 1995. Jumlah ini menjadi empat persen pada 2011. Ini berarti ada peningkatan 400 persen jumlah perokok wanita selama 16 tahun.
Sedangkan menurut hasil penelitian "Smoking Prevalence and Cigarette Consumption in 187 countries, 1980-2012" oleh The Institute for Health Metrics and Evaluation (IMHE) yang diterbitkan dalam Jurnal Kesehatan Amerika, Rabu, 8 Januari 2014, jumlah perokok pria di Indonesia dalam 30 tahun terakhir meningkat 57 persen. Peningkatan ini merupakan jumlah tertinggi kedua di dunia.
Ada dua tipe perokok, aktif dan pasif. Perokok aktif adalah orang yang secara langsung menghisap rokok, sedangkan perokok pasif adalah mereka yang secara tidak langsung menghirup asap rokok yang dikeluarkan dari mulut orang yang sedang merokok dan ini jauh lebih berbahaya.
Bahaya yang harus ditanggung oleh perokok pasif tiga kali besar dari perokok aktif. Hal ini terjadi karena zat berbahaya yang masuk ke tubuh perokok aktif hanya 25% dan sisanya yang 75% tersebar bebas di udara dan dihirup oleh para perokok aktif yaitu siapa saja yang ada di sekeliling perokok aktif.
Salah satu cara yang terus diupayakan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, untuk menekan dan bila mungkin menurunkan jumlah perokok adalah dengan mewajibkan produsen rokok memasang gambar seram di setiap bungkus rokok. Apakah cara ini efektif? Jawabannya tercermin pada volume penjualan rokok yang tahun lalu mencapai 351 miliar batang dan tahun ini diperkirakan meningkat signifikan mencapai 361 miliar batang.
Adakah cara efektif untuk menghentikan kebiasaan merokok? Tentu ada. Hipnoterapi klinis adalah salah satu yang paling efektif dalam membantu klien berhenti merokok. Mengapa hipnoterapi klinis bisa begitu efektif mengatasi kebiasaan merokok?
Merokok adalah kebiasaan yang terbentuk melalui proses belajar, bukan bawaan sejak lahir. Dengan demikian kebiasaan merokok, dengan logika pikir yang sama, pasti dapat dihentikan juga melalui proses belajar.
Kendala utama terletak pada proses yang digunakan untuk menghentikan kebiasaan ini. Cara pertama adalah dengan menggunakan kekuatan kehendak atau will-power yang merupakan ranah pikiran sadar. Cara kedua dengan menggunakan pikiran bawah sadar.
Penggunaan kekuatan kehendak adalah yang paling umum bila ingin berhenti merokok. Caranya adalah dengan menekan keinginan merokok, saat keinginan ini muncul, menggunakan berbagai cara. Intinya, dorongan merokok ditekan sedemikian rupa dengan harapan akhirnya padam. Bisa juga dorongan ini dialihkan ke bentuk kegiatan lain. Tingkat keberhasilan cara ini rendah karena untuk bisa berhentik merokok dibutuhkan kekuatan kehendak yang jauh lebih besar daripada dorongan merokok. Kekuatan kehendak diarahkan pikiran sadar sedangkan dorongan merokok berasal dari pikiran bawah sadar.
Mereka yang “berhasil” berhenti merokok menggunakan cara ini bisa berhenti selama beberapa minggu, bulan, satu tahun atau lebih. Namun, saat dalam kondisi stres atau galau tanpa disadari mereka kembali merokok dan biasanya jauh lebih banyak dari sebelumnya. Inilah yang disebut dengan efek pembalikan.
Efek pembalikan bekerja berdasar prinsip berikut. Bayangkan ada sebuah bola mengapung di atas permukaan air. Kemudian, menggunakan tangan, tekan bola ini dengan kuat sehingga tenggelam dan “hilang”. Bola ini tidak benar-benar hilang. Ia tetap ada di dalam air dan tidak bisa keluar atau naik ke permukaan karena ditekan. Saat tekanan melemah bola mulai naik ke permukaan. Saat tekanan hilang bola akan lepas, meluncur bebas, dan naik jauh di atas permukaan air. Bola adalah keinginan merokok dan tekanan yang menahan bola di dalam air adalah kekuatan kehendak. 
Mereka yang berhasil berhenti merokok menggunakan kekuatan kehendak tidak berarti keinginan merokoknya sudah benar-benar padam. Dorongan ini bisa terus muncul namun selalu ditekan atau dialihkan.
Berhenti merokok bila dilakukan dengan cara yang tidak tepat biasanya mengakibatkan efek samping. Pikiran bawah sadar mereka mengalihkan dorongan merokok menjadi dorongan makan. Akibatnya berat badan mereka naik. Ini akhirnya juga bisa jadi masalah.
Cara lain untuk berhentik merokok adalah dengan menggunakan hipnoterapi klinis dengan memroses pikiran bawah sadar. Salah satu fungsi pikiran bawah sadar adalah menyimpan tiga jenis kebiasaan yaitu baik, buruk, dan refleks. Berhubung merokok adalah satu bentuk kebiasaan yang tersimpan di pikiran bawah sadar maka cara paling mudah adalah memroses kebiasaan ini langsung di sumbernya.
Ada beberapa teknik dalam hipnoterapi klinis untuk membantu klien berhenti merokok. Pertama adalah menggunakan sugesti langsung (direct suggestion). Teknik ini paling sering digunakan oleh para hipnoterapis dan berawal sejak jaman Bernheim. Sugesti digunakan untuk menghilangkan simtom. Literatur awal di tahun 1880an menyatakan bahwa teknik ini mampu menyembuhkan beragam simtom baik secara temporer maupun permanen. Namun temuan terkini menyatakan sugesti hanya efektif untuk masalah yang ringan dan tidak untuk hal yang sifatnya serius terutama dengan muatan emosi yang intens.
Cara melakukan terapi berbasis sugesti adalah dengan pertama melakukan induksi dan membimbing klien masuk kondisi hipnosis yang dalam, semakin dalam semakin baik. Selanjutnya terapis memberikan sugesti ke pikiran bawah sadar klien untuk berhenti merokok.
Terapi berbasis sugesti untuk berhenti merokok akan sangat efektif dan mampu memberikan hasil yang bertahan lama bila memenuhi beberapa syarat berikut. Pertama, motivasi klien untuk berhenti merokok harus benar-benar tinggi. Semakin tinggi motivasinya semakin baik. Kedua, klien perlu dibimbing untuk mencapai kedalaman hipnosis yang (sangat) dalam sebelum menerima sugesti. Ketiga, sugesti yang diberikan benar dan tepat sasaran. Keempat, tidak ada Bagian Diri yang menentang atau keberatan dengan keinginan klien berhenti merokok.
Saya beberapa kali menangani klien yang ingin berhenti merokok. Langkah pertama yang selalu saya lakukan adalah memastikan alasan klien berhenti merokok adalah tepat dan atas kesadarannya sendiri. Beberapa klien datang ke saya karena diminta oleh orangtua atau pasangannya. Untuk klien seperti ini saya menolak melakukan terapi karena motivasinya rendah.
Saya juga pernah beberapa kali menangani klien yang bermasalah justru setelah berhasil berhenti merokok. Keluhan klien umumnya, sejak berhenti merokok, mereka sering pusing, bete, sulit konsentrasi, mudah tersinggung, mudah marah, tidak semangat, berat badannya naik, apatis, mudah lupa, atau mudah gelisah.
Saat saya tanya apa yang dilakukan terapis sebelumnya dalam membantu mereka berhenti merokok jawaban yang saya dapatkan adalah terapis memberikan sugesti berhenti merokok. Ada yang menggunakan skrip singkat dan diulang berkali-kali. Ada juga yang menggunakan skrip lebih panjang.
Secara teknis yang dilakukan terapis ini sudah tepat. Mereka mendapat klien yang punya motivasi tinggi untuk berhenti merokok. Mereka mampu membimbing klien masuk kondisi hipnosis yang dalam dan selanjutnya memberi sugesti.
Yang saya temukan selama ini masalah muncul karena terapis tidak melakukan pengecekan ke pikiran bawah sadar klien apakah ada yang menentang atau keberatan dengan keinginan klien berhenti merokok. Dan ternyata memang ada Bagian Diri yang marah.
Di kelas SECH saya mengajarkan teknik R.O.T untuk memeriksa apakah ada Bagian Diri yang keberatan atau tidak. Dengan teknik ini keberadaan Bagian Diri yang menentang atau keberatan pasti akan terungkap walau ia sembunyi dan tidak bersedia tampil.
Teknik lain yang sangat efektif membantu klien berhenti merokok, dan ini yang selalu kami gunakan, adalah teknik Ego Personality Therapy (EPT). Umumnya dibutuhkan hanya satu sesi terapi untuk membantu klien benar-benar berhenti merokok.
Dalam melakukan EPT hipnoterapis perlu memastikan apa alasan utama EP Perokok melakukan yang ia lakukan dan apakah benar-benar bersedia dan tulus untuk berhenti total ataukah ia hanya ingin mengurangi rokok. Bila EP Perokok belum bersedia berhenti total maka terapis perlu menghargai hal ini.
Baru-baru ini salah satu alumnus SECH berbagi kisah terapinya. Alumnus ini hanya dalam satu sesi berhasil membantu ayahnya mengurangi konsumsi rokok per hari dari 40 batang menjadi 3 batang. Ini adalah hasil terapi yang luar biasa mengingat kebiasaan merokok ayahnya sudah berlangsung selama 35 tahun.
Guru saya, Randal Churchill, di saat saya mengikuti pelatihan dan sertifikasi menjadi hipnoterapis klinis di San Francisco mewanti-wanti kami untuk hati-hati dan cermat dalam menangani kasus apapun. Kasus berhenti merokok yang tampak mudah dan sepele bisa berakibat sangat fatal bila salah penanganan.
Randal pernah menangani satu klien yang ingin berhenti merokok. Untunglah Randal sangat cermat dalam melakukan terapi dan melakukan pengecekan ke pikiran bawah sadar kliennya terlebih dahulu. Dengan teknik yang ia ajarkan di kelas, Randal ingin memastikan pikiran bawah sadar si klien mengijinkan ia membantu si klien berhenti merokok dan si klien boleh berhenti merokok. Ternyata jawaban dari pikiran bawah sadar kliennya sungguh mengejutkan.
Pikiran bawah sadar klien tidak mengijinkan klien berhenti merokok karena merokok adalah satu-satunya alasan klien untuk tetap bisa bertahan hidup. Penelusuran lebih dalam mengungkap data penting. Ternyata klien ini dulu pernah menjalani kerja paksa dan hanya bertahan hidup demi menikmati rokok yang diberikan sehari satu batang. Inilah satu-satunya alasan ia bisa tetap hidup dan selamat. Randal menyampaikan bahwa bila sampai klien berhenti merokok akibatnya bisa sangat fatal.